Islam dan Pemberantasan Korupsi PDF Cetak Surel
Khazanah
Ditulis oleh Maulana Muladi   
Rabu, 16 May 2012 18:10

Salah satu penyakit kronis yang masih menggrogoti bangsa ini adalah korupsi. Salah satu penyakit kronis yang masih menggrogoti bangsa ini adalah korupsi. Berbagai pihak meyakini, penyakit ini telah menyebarluas ke seantero negeri dengan jumlah yang dari tahun ke tahun cenderung semakin meningkat serta modus yang makin beragam.

Hasil riset yang dilakukan berbagai lembaga juga menunjukkan bahwa tingkat korupsi di negeri yang mayoritas muslim ini masih termasuk yang paling tinggi di dunia. Bahkan koran Singapura, The Straits Times, pernah menjuluki Indonesia sebagai "the envelope country", karena segala hal bisa dibeli, entah itu lisensi, tender, wartawan, hakim, jaksa, polisi, petugas pajak atau yang lainnya. Pendek kata, segala urusan semua bisa lancar bila ada amplop.

Ironis dan menyedihkan. Padahal Indonesia amat dikenal sebagai bangsa yang religius dan taat pada ajaran agama. Tapi mengapa korupsi begitu tumbuh subur?

Agama mana pun, khususnya Islam mengutuk tindakan korupsi dalam bentuk apa pun. Dalam konteks ajaran Islam yangt lebih luas, korupsi merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip keadilan (aladalah), akuntabilitas (al-amanah) dan tanggung jawab. Korupsi dengan segala dampak negatifnya yang menimbulkan berbagai distorsi terhadap kehidupan negara dan masyarakat dapat dikategorikan termasuk perbuatan fasad, kerusakan di muka bumi. Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa Islam amat membenci korupsi.

Dalam perspektif ajaran Islam, korupsi termasuk perbuatan fasad atau perbuatan yang merusak tatanan kehidupan yang pelakunya dikategorikan melakukan jinayah kubro (dosa besar) yang pelakunya harus dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan cara menyilang (tangan kanan dengan kaki kiri atau tangan kiri dengan kaki kanan) atau diusir.

Hal ini sebagaimana dikemukakan Allah SWT : Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan dimuka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka (dengan menyilang) atau dibuang dari negeri kediamannya. Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.(QS Al Maidah : 33).

Namun mengapa korupsi begitu subur di negeri beragama ini? Penulis berkeyakinan bahwa suburnya korupsi di negera yang mayoritas muslim ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kurangnya masyarakat memahami ajaran-ajaran agamanya. Khusus untuk umat Islam, individu muslim belum menghayati makna ajaran agama seperti makna shalat, puasa dan sebagainya. Ibadah shalat dan puasa bila dilaksanakan secara benar dan konsekuen dapat dimanifestasikan dalam perilaku sehari-hari. Misalnya mampu mencegah perbuatan-perbuatan jahat, munkar dan merugikan orang lain.

Kedua, lemahnya sistem pengawasan dari pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya. Ditanah air memang banyak lembaga pengawasan korupsi berdiri, namun kinerjanya belum maksimal. Lemahnya sistem pengawasan ini memungkinkan pelaku tidak merasa takut untuk melakukan korupsi. Namun saat ini pemerintah, baru menyadari bahwa pengawasan itu sangat perlu dilakukan dengan melibatkan berbagai lembaga LSM dan mengaktifkan lembaga hukum; kejaksaan dan kehakiman.

Ketiga, lemahnya sistem hukum. Ini terjadi karena kurang beraninya aparat hukum melakukan penelitian dan pengungkapan terhadap tindak korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara. Saat ini, aparat hukum mulai bergerak. Hukum mulai ditegakkan. Para koruptor satu-persatu mulai ditangkap. Penegakan hukum ini harus terus dijalankan, bila Indonesia ingin bebas dari korupsi.

Keempat, kurang digalakkannya semangat rakyat anti korupsi. Semangat ini perlu dijalankan. Sebab tindak korupsi telah menjerumuskan bangsa ini ke jurang kehancuran. Bila semangat kurang digerakkan, maka nasib bangsa ini akan terus berada di bawah. Oleh karena sosialisasi semangat anti korupsi perlu digerakkan mulai dari lembaga pendidikan. Penanganan Serius Karena korupsi sudah menjadi budaya di negeri ini , maka diperlukan sebuah penanganan yang serius.

Menurut Muhammad Ismail Yusanto (2003) ada sejumlah cara ditawarkan syariat Islam dalam upaya penumpasan budaya korupsi. Pertama, sistem penggajian yang layak. Aparat pemerintah harus bekerja dengan sebaik-baiknya. Dan itu sulit berjalan dengan baik bila gaji mereka tidak mencukupi. para birokrat juga manusia.

Kedua, larangan menerima suap dan hadiah. Hadiah dan suap yang diberikan seseorang kepada aparat pemerintah pasti mengandung maksud tertentu, karena buat apa memberi sesuatu bila tanpa maksud dibelakangnya, yakni bagaimana agar aparat itu bertindak menguntungkan pemberi hadiah. Saat Abdullah bin Rawahah tengah menjalankan tugas dari Nabi untuk membagi dua hasil bumi Khaybar---separo untuk kaum muslimin dan sisanya untuk orang Yahudi---datang orang Yahudi kepadanya memberikan suap berupa perhiasan agar ia mau memberikan lebih dari separo untuk orang Yahudi.

Tawaran ini ditolak keras oleh Abdullah bin Rawahah, Suap yang kalian tawarkan adalah haram, dan kaum muslimin tidak memakannya. Mendengar ini, orang Yahudi berkata, Karena itulah (ketegasan Abdullah) langit dan bumi tegak (Imam Malik dalam al-Muwatta). Tentang suap Rasulullah bersabda, Laknat Allah terhadap penyuap dan penerima suap. (HR Abu Dawud).

Tentang hadiah kepada aparat pemerintah, Rasul berkata,Hadiah yang diberikan kepada para penguasa adalah haram dan suap yang diterima hakim adalah kufur. (HR Imam Ahmad).

Ketiga, perhitungan kekayaan. Perhitungan kekayaan dan pembuktian terbalik sebagaimana telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab menjadi cara yang bagus untuk mencegah korupsi. Semasa menjadi Khalifah, Umar menghitung kekayaan para pejabat di awal dan di akhir jabatannya. Bila terdapat kenaikan yang tidak wajar, yang bersangkutan, bukan jaksa atau orang lain, diminta membuktikan bahwa kekayaan yang dimilikinya itu didapat dengan cara yang halal.

Bila gagal, Umar memerintahkan pejabat itu menyerahkan kelebihan harta dari jumlah yang wajar kepada Baitul Mal atau membagi dua kekayaan itu separo untuk yang bersangkutan dan sisanya untuk negara. Cara inilah yang sekarang dikenal dengan istilah pembuktian terbalik yang sebenarnya sangat efektif mencegah aparat berbuat curang.

Keempat, teladan pemimpin. Pemberantasan korupsi hanya akan berhasil bila para pemimpin dalam sebuah negara bersih dari korupsi. Dengan takwa, seorang pemimpin melaksanakan tugasnya dengan penuh amanah. Dengan takwa pula, ia takut melakukan penyimpangan, karena meski ia bisa melakukan kolusi dengan pejabat lain untuk menutupi kejahatannya, Allah SWT pasti melihat semuanya dan di akhirat pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Di sinilah diperlukan keteladanan dari para pemimpin itu.

Kelima, hukuman setimpal. Pada dasarnya, orang akan takut menerima risiko yang akan mencelakakan dirinya, termasuk bila ditetapkan hukuman setimpal kepada para koruptor. Berfungsi sebagai pencegah, hukuman setimpal atas korupstor diharapkan membuat orang jera dan kapok melakukan korupsi. Dalam Islam, koruptor dikenai hukuman tazir berupa tasyhir atau pewartaan (dulu dengan diarak keliling kota, sekarang mungkin di tayangkan di televisi), penyitaan harta dan hukuman kurungan, bahkan sampai hukuman mati.

Keenam, pengawasan masyarakat. Masyarakat dapat berperan menyuburkan atau menghilangkan korupsi. Demi menumbuhkan keberanian rakyat mengoreksi aparat, khalifah Umar di awal pemerintahannya menyatakan, Apabila kalian melihatku menyimpang dari jaln Islam, maka luruskan aku walaupun dengan pedang. Dari paparan di atas, sangat jelas sikap Islam dalam soal korupsi. Islam sangat menentang perilaku korupsi dan Islam juga menawarkan jalan keluar dalam upaya memberantas korupsi yang sudah membudaya di negeri ini. *** Penulis adalah pengamat masalah sosial keagamaan. Tinggal di Jakarta.

 

 

Warning: getimagesize(images/stories/foto%20rektor%20uhamka.jpg) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/tabloid7/public_html/plugins/content/smartresizer.php on line 336

Warning: getimagesize(images/stories/1.foto-reuni%20pkp.jpg) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/tabloid7/public_html/plugins/content/smartresizer.php on line 336

Warning: getimagesize(images/stories/2.foto-reuni%20pkp.jpg) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/tabloid7/public_html/plugins/content/smartresizer.php on line 336

Warning: getimagesize(images/stories/foto-syriah%20eokonomi.jpg) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/tabloid7/public_html/plugins/content/smartresizer.php on line 336

Warning: getimagesize(images/stories/1.foto-%20wokshop%20jes.jpg) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/tabloid7/public_html/plugins/content/smartresizer.php on line 336

Warning: getimagesize(images/stories/foto%20jes.jpg) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/tabloid7/public_html/plugins/content/smartresizer.php on line 336

Warning: getimagesize(images/stories/foto-idul%20qurban%20yma.jpg) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/tabloid7/public_html/plugins/content/smartresizer.php on line 336

Warning: getimagesize(images/stories/2.foto-idul%20qurab%20yma.jpg) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/tabloid7/public_html/plugins/content/smartresizer.php on line 336